image1 image2 image3

HELLO I'M ENDRA YUDA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M BLOGGER FROM BALI|I HOPE THIS BLOG IS USEFUL

Penggunaan pemahaman atas bisnis dan bidang usaha untuk pengembangan strategi audit



Pemahaman bisnis dan bidang usaha klien
auditor mengembangkan strategi audit berdasarkan resiko salah saji material. Langkah pertama dalam menetapkan resiko adalah mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien karena hal itu akan membantu auditor dalam :
  • memperkirakan total pendapatan klien dengan memahami kapasitas, pasar, dan klien.
  • Memperkirakan laba kotor dengan memahami pangsapasar klien dan keuntungan kompetitif dipasar.
  • Memperkirakan piutang bersih berdasarkan pemahaman atas periode pengumpulan piutang rata-rata pada perusahaan klien maupun pada bidang usaha yang sama.


Materialitas

            Pendapatan merupakan tolak ukur volume aktivitas untuk hampir semua perusahaan. Pendapatan biasanya memiliki volume transaksi yang tinggi dan total pendapatan sangat penting bagi laporan keuangan sehingga pendapatan sering digunakan untuk menetapkan materialitas atas penugasan keseluruhan.
            Pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien juga amat bermanfaat dalam memperkirakan besarnya transaksi-transaksi penyesuaian penjualan, potongan penjualan, dan retur serta potongan penjualan lainnya yang bisa sangat berbeda antara bidang usaha yang satu dengan bidang usaha yang lainnya.biaya kerugian piutang dan cadangan kerugian piutang bisa cukup material terhadap laporan rugi/laba dan neraca dalam perusahaan-perusahaan yang melakukan transaksi penjualan secara kredit.

Risiko bawaan

            Dalam menetapkan risiko bawaan untuk asersi-asersi siklus pendapatan, auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi asersi-asersi dalam berbagai siklus, termasuk siklus pendapatan, dan juga faktor-faktor yang hanya berkaitan dengan asersi-asersi tertentu dalam siklus pendapatan.hal ini mencakup pula faktor-faktor yang bisa memotifikasi manajemen untuk melakukan salah saji dalam asersi-asersi pada siklus pendapatan seperti misalnya :
  • Desakan untuk melaporkan pendapatan lebih tinggi dari jumlah sesungguhnya agar dapat mencapai jumlah pendapatan yang telah dicanangkan atau tingkat provitabilitas yang telah ditargetkan atau tingkat pendapatan perusahaan-perusahaan lain dalam bidang usaha yang sama, yang dalam kenyataannya tidak dapat dicapai karena pengaruh berbagai faktor seperti kondisi ekonomi global, nasional atau regional, atau karena manajemen yang buruk.
  • Dorongan untuk melaporkan kas dan piutang bruto lebih tinggi dari jumlah sesungguhnya atau melaporkan cadangan kerugian piutang lebih rendah agar laporan menunjukkan tingkat model kerja yang tinggi sehingga memenuhi ketentuan dalam perjanjian kredit.



Risiko prosedur analitis

            Risiko prosedur analitis adalah elemen risiko deteksi yang timbul dari kegagalan prosedur analitis dalam mendeteksi salah saji material. Prosedur analitis adalah prosedur yang murah biayanya, tetapi akan sangat tergantung pada pemahaman auditor atas bisnis dan bidang usaha kliennya. Langkah pertama dalam melaksanakan prosedur analitis adalah mendapatkan pemahaman tentang total pendapatan beserta kapasitas klien dan pasar klien untuk produk yang dijualnya. Auditor harus mendapatkan pemahaman tentang kapasitas klien yaitu volume penjualan maksimum yang dapat dicapainya seandainya klien menggunakan penuh seluruh fasilitas dan tenaga kerja yang dimilikinya untuk memproduksi dan mengirim produk dan jasa yang dihasilkannya.
            Salah satu hal penting dalam penerapan prosedur analitis adalah memahami pangsapasar klien, yaitu perbandingan antara pendapatan klien dengan total pendapatan dipasar untuk produk sejenis. Hal ini penting untuk dipahami karena perusahaan yang mendominasi pangsapasar seringkali memperoleh laba kotor yang lebih tinggi.
            Selain itu, auditor perlu juga menilai periode pengumpulan piutang rata-rata pada perusahaan klien dan membandingkannya dengan periode pengumpulan piutang rata-rata pada bidang usaha yang sama. Prosedur analitis selain yang bisa dilakukan auditor dalam siklus pendapatan antara lain :
  • Perputaran (turnover) piutang, yaitu rasio penjualan terhadap rata-rata total aktiva.
  • Kecenderungan (trend) perkembangan laba kotor dibandingkan dengan kecenderungan perkembangan dalam pangsapasar.
  • Taksiran (estimasi) piutang usaha berdasarkan pengetahuan auditor tentang volume penjualan perusahaan, harga, dan periode pengumpulan piutang masa lalu.
  • Perbandingan piutang usaha dengan piutang yang dianggarkan dalam anggaran kas perusahaan.
  • Biaya kerugian piutang dibandingkan dengan penjualan kredit bersih.
  • Biaya kerugian piutang dibandingkan dengan piutang tak tertagih sesungguhnya

Share this:

CONVERSATION